Konsep Pelatihan

Definisi Pelatihan

Veitzhal Rivai (2006:225) mengungkapkan bahwa “pelatihan merupakan wahana untuk membangun SDM menuju era globalisasi yang penuh dengan tantangan.”

Secara ontologis, pengertian pelatihan telah dirumuskan oleh para ahli, di antaranya oleh Friedman dan Yarbrough (Sudjana, 2007:4) mengemukakan bahwa:

Training is a process used by organizations to meet their goals. It is called into operation when a discrepancy is perceived between the current situation and a preferred state of affairs. The trainer’s role is to faciliatate trainee’s movement from the status quo toward the ideal.

Pengertian tersebut menunjukkan bahwa pelatihan adalah upaya pembelajaran, yang diselenggarakan oleh organisasi (instansi pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, perusahaan, dan lain sebagainya) untuk memenuhi kebutuhan atau untuk mencapai tujuan organisasi. Suatu pelatihan dianggap berhasil apabila dapat membawa kenyataan atau performansi sumber daya manusia yang terlibat dalam organisasi pada saat ini kepada kenyataan atau performansi sumber daya manusia yang seharusnya atau yang diinginkan oleh organisasi dan/lembaga.

Sejalan dengan pengertian di atas, Sikula (Sutrisno, 2009:72) mengatakan bahwa:

Pelatihan merupakan proses pendidikan jangka pendek yang menggunakan prosedur sistematis dan terorganisir, yang mana tenaga kerja nonmanajerial mempelajari pengetahuan dan keterampilan teknis untuk tujuan-tujuan tertentu.

Dengan demikian pelatihan merupakan proses membantu para tenaga kerja untuk memperoleh efektivitas dalam pekerjaan mereka yang sekarang atau yang akan datang melalui pengembangan kebiasaan tentang pikiran, tindakan, kecakapan, pengetahuan, dan sikap yang layak. Jadi, dapat dikatakan pula bahwa latihan berhubungan dengan efektivitas pekerjaan individu tenaga kerja dan hubungan antar tenaga kerja yang dikembangkan guna memudahkan pencapaian tujuan perusahaan.

Untuk dapat memahami konsep dari sebuah pelatihan. Agus Suryana (2006: 2-3) mengemukakan cara mudah untuk mengartikan pelatihan yaitu dengan mengetahui apa yang bukan termasuk pelatihan, jadi pelatihan bukanlah:

  1. Sebuah remedial bagi semua masalah kinerja. Pelatihan terbaik di dunia sekalipun mungkin tidak akan mampu merubah karyawan yang tidak mampu atau tidak menjalankan tugas.
  2. Sebuah alat bagi seseorang karyawan untuk menyempurnakan kinerja tugas. Di dalam sesi pealatihan yang efektif, karyawan harus belajar mengoreksi cara menjalankan tugas, mendapatkan jawaban atas pertanyaan mereka, dan peluang untuk bereksperimen dengan pengetahuan dan keterampilan mereka. Mereka bisa mengasah dan menyempurnakan teknik kerja mereka ketika trainer mendukung mereka.
  3. Sebuah pengganti atas buruknya supervisi. Pelatihan bukanlah perlengkapan dalam wilayah supervisi atau pengawasan. Jika Anda tidak terlibat aktif dalam pelatihan atau menguatkan pelatihan yang diterima karyawan, maka keduanya, Anda dan karyawan Anda akan menuai kegagalan.
  4. Sesuatu yang mudah. Pelatihan yang baik memerlukan perencanaan dan pemikiran yang matang. Ini tidak bisa dilakukan seperti memcahkan kinerja dalam waktu yang cepat.

Tujuan Pelatihan

Sebagai suatu kegiatan yang berperan dalam meningkatkan potensi sumber daya manusia, pelatihan pasti memiliki tujuan yang ingin dicapai. Karena tujuan ini menjadi pedoman yang akan memberikan arahan agar pelaksanaan diklat berjalan secara terprogram sesuai dengan ketetentuan tujuan diklat itu sendiri.

Dalam buku Manajemen Sumber Daya manusia, Henry Simamora (1999:346) mengungkapkan bahwa pelatihan mempunyai tujuan-tujuan utama:

  1. Memperbaiki kinerja
  2. Memutakhirkan keahlian para karyawan sejalan dengan kemajuan teknologi
  3. Mengurangi waktu belajar bagi karyawan baru supaya menjadi komponen dalam pekerjaan.
  4. Membantu memecahkan permasalahan operasional
  5. Mempersiapkan karyawan untuk promosi
  6. Mengorientasikan karyawan terhadap organisasi.
  7. Memenuhi kebutuhan-kebutuhan pertumbuhan pribadi.

Hal senada diungkapkan oleh Moh. Fakry Gaffar (Sugiarto, 2005:14) bahwa tujuan pelatihan yaitu:

  1. Mengembangkan wawasan, sikap dan perilaku baru dari setiap peserta pelatihan.
  2. Menguasai berbagai pengetahuan dan keterampilan baru yang diperlukan untuk memenuhi tuntutan persyaratan kualitatif pekerjaan.
  3. Mengembangkan sikap agar setiap peserta pelatihan cepat menyesuaikan diri, tanggap, kreatif dan mandiri dalam setiap perubahan persyaratan kerja terus menerus berubah.

Ada dua alasan yang sangat mendasar dengan diadakannya suatu program pelatihan dalam organisasi, yaitu pengembangan individu dan pengembangan organisasi. Disebut pengembangan individu yaitu bahwa dengan pelatihan itu, maka seorang pegawai yang ikut program tersebut akan mampu melakukan dan mengerjakan tugasnya secara efektif dan efisien. Disebut pengembangan organisasi yaitu diharapkan melalui program pelatihan akan memberikan keuntungan bagi organisasi dan sekaligus pada pengembangan profesioanal dari bawahan.

Bambang Wahyudi (dalam Sugiarto, 2005:14) mengemukakan tujuan khusus dari suatu pelatihan, yaitu:

  1. Meningkatkan produktivitas,
  2. Meningkatkan kualitas,
  3. Meningkatkan mutu perencanaan tenaga kerja,
  4. Meningkatkan semangat tenaga kerja,
  5. Sebagai balas jasa tidak langsung,
  6. Meningkatkan kesehatan dan keselamatan kerja,
  7. Mencegah kekadaluawarasaan,
  8. Kesempatan mengembangkan diri.

Fungsi dari suatu pelatihan yaitu diharapkan dapat memberikan kepuasan bagi pegawai yang menginginkan adanya pengembangan diri bagi mereka. Pegawai diberi kesempatan untuk berkembang sesuai dengan minat dan kemampuannya sehingga pegawai memiliki kemampuan dan keterampilan sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan dalam menjalankan tugasnya.

Pelatihan tersebut sebenarnya membantu pegawai memanfaatkan pekerjaan sebagai pengalaman pembelajaran dan bimbingan. Disamping dapat belajar sambil bekerja sekaligus mereka dapat masukan dari atasan, maka dengan pelatihan yang baik, atasan dapat membantu bawahan menambah pengetahuan dan pengalaman yang baru.

Manfaat Pelatihan

Dalam melaksanakan kegiatan pelatihan pastilah diharapkan dapat mewujudkan manfaat baik untuk pegawai maupun untuk instansi. Banyak ahli yang mengemukakan pendapatnya mengenai manfaat pelatihan. Seperti pendapat yang dikemukakan oleh Veitzal Rivai (2004: 231:233) bahwa manfaat pelatihan dapat dibagi menjadi tiga yaitu manfaat untuk karyawan, manfaat untuk perusahaan dan manfaat dalam hubungan SDM, intra dan antargrup dan pelaksanaan kebijakan. Secara lebih jelas dapat diuraikan sebagai berikut:

(1)   Manfaat untuk karyawan

  1. Membantu karyawan dalam membuat keputusan dan pemecahan secara efektif
  2. Membantu mendorong dan mencapai pengembangan diri dan rasa percaya diri
  3. Membantu karyawan mengatasi stress, tekanan, frustasi dan konflik
  4. Meningkatkan kepuasan kerja dan pengakuan
  5. Memenuhi kebutuhan personal peserta dan pelatih
  6. dll

(2)   Manfaat untuk perusahaan

  1. Mengarahkan untuk meningkatkan profitabilitas atau sikap yang lebih positif terhadap orientasi profit
  2. Memperbaiki pengetahuan kerja dan pelatihan pada semua level perusahaan
  3. Memperbaiki moral SDM
  4. Membantu karyawan untuk mengetahui tujuan perusahaan
  5. Membantu menciptakan image perusahaan yang lebih baik
  6. dll

(3)   Manfaat dalam hubungan SDM, intra dan antargrup dan pelaksanaan kebijakan

(a)    Meningkatkan komunikasi antar grup dan individual

(b)   Membantu dalam orientasi bagi karyawan baru dan karyawan transfer atau promosi

(c)    Memberikan informasi tentang kesamaan kesempatan dan aksi afirmatif

(d)   Memberikan informasi tentang hukum pemerintah dan kebijakan internasional

(e)    Meningkatkan keterampilan interpersonal

(f)    Dll

Tjiptono dan Diana dalam Laporan Evaluasi Kinerja Alumni Diklat Tenaga Struktural, Tenaga Teknis dan Tenaga Fungsional, mengemukakan bahwa pelatihan bagi pegawai akan memberikan manfaat sebagai berikut:

  1. Mengurangi kesalahan
  2. Meningkatkan produktivitas
  3. Meningkatkan dan memperbaiki kualitas
  4. Mengurangi tingkat turn over
  5. Biaya staf yang lebih rendah
  6. Mengurangi kecelakaan
  7. Meminimalisasi biaya asuransi
  8. Meningkatkan fleksibilitas pegawai
  9. Respon yang lebih baik terhadap perubahan
  10. Meningkatkan komunikasi
  11. Kerjasama tim yang lebih baik
  12. Hubungan pegawai akan lebih harmonis
  13. Mengubah budaya kerja
  14. Menunjukkan komitmen manajemen terhadap kualitas

Sedangkan menurut Henry Simamora (Naharoh, 2005:21) menjelaskan mengenai manfaat-manfaat dari pelatihan yaitu antara lain:

  1. Meningkatkan kuantitas dan kualitas produktivitas
  2. Mengurasi waktu belajar yang diperlukan karyawan agar mencapai standar-standar kinerja yang dapat diterima
  3. Menciptakan sikap, loyalitas, dan kerja sama yang lebih menguntunkan
  4. Memenuhi kebutuhan-kebutuhan perencanaan sumber daya manusia
  5. Mengurangi jumlah dan biaya kecelakaan kerja
  6. Membantu karyawan dalam peningkatan dan pengembangan pribadi mereka

Dari penjelasan manfaat pelatihan diatas ini dapat ditarik kesimpulan bahwa pelatihan bermanfaat baik bagi individu maupun organisasi dalam meningkatkan produktivitas, efisiensi dan efektivitas dalam pekerjaan.

Pentingnya Pelatihan

Salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam rangka pengembangan Sumber Daya Manusia yaitu dengan melaksanakan pelatihan. Sebagaimana dikemukakan oleh Agus Suryana (2006:6) dalam buku Pengelolaan Pelatihan. Beberapa faktor yang melatar belakangi diadakannya pelatihan untuk karyawan yaitu antara lain:

  1. Karyawan adalah faktor konstan di dunia kerja saat ini
  2. Teknologi bergerak begitu cepat bagai tak terbendung
  3. Globalisasi, meningkatnya akses, dan pertumbuhan kompetisi internasional
  4. Supervisor dan manajer membutuhkan pengetahuan lebih dalam mengelola tenaga kerja yang lebih terdidik dan beragam
  5. Nilai dan keyakinan dunia kerja saat ini terus berubah
  6. Supervisor bertanggung jawab membantu dalam mengenalkan kepada karyawan baru kultur dasn praktik perusahaan; ini akan memastikan efektivitas dan efisiensi yang maksimal di perusahaan

Dalam konteks SDM pengembangan dipandang sebagai peningkatan kualitas SDM melalui program-program pelatihan dan pendidikan. Apa yang dapat dijelaskan dari pengembangan sumber daya manusia adalah tentang development practice dan membutuhkan kolaborasi dengan program-program MSDM untuk mencapai hasil yang diinginkan. Pelatihan membantu pegawai dalam memahami suatu pengetahuan praktis dan penerapannya, guna meningkatkan keterampilan, kecakapan, dan sikap yang diperlukan oleh organisasi atau institusi dalam usaha mencapai tujuan.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s