Kita Bersatu dengan Umat Manusia Lainnya

Kita diciptakan tidak hanya untuk bertahan hidup, kita adalah sebuah umat “yang dilahirkan untuk segenap manusia” sehingga kita mesti menjawab tangisan umat manusia. Tanggapan terhadap kebutuhan rakyat jelas merupakan jawaban terhadap undangan Allah untuk membangun sebuah masyarakat yang adil, damai, setara, mencintai dan benar.

Dinyatakan dalam salah satu hadits qudsi, Nabi saw bahwa pada Hari Kiamat Allah akan mengatakan kepada hamba-Nya, “Aku sakit, tetapi kamu tidak menjenguk-Ku.” Si Hamba akan bertanya, ” Bagaimana aku harus menjenguk-Mu sedangkan Engkau adalah Tuhan bagi alam semesta.” Setelah itu Allah akan menjawab. Apakah kamu tidak tahu bahwa hamba-Ku si fulan sedang sakit, tetapi kamu tidak menjenguknya? Seandainya kamu menjenguknya (untuk menghibur dan membantu) pasti kamu dapati Aku di sisinya.” Ia akan bertanya lagi, “Hai anak Adam, Aku minta makan kepadamu, tetapi tidak kamu beri Aku akan.” Si hamba akan menjawab, “Bagaimana aku memberi makan Engkau, sedangkan Engkau adalah Tuhan bagi alam semesta?” Allah kemudian akan mengatakan, “Apakah kamu tidak tahu bahwa hamba-Ku si fulan meminta makan kepadamu, tetapi tidak kau beri makan? Seandainya kamu beri makan dia niscaya kamu dapati Aku disisinya.” Allah akan bertanya lagi, “Wahai anak Adam, aku minta minum kepadamu, tetapi tidak kamu beri minum.” Si hamba akan menjawab, “Bagaimana aku memberi-Mu minum sedangkan Engkau Tuhan bagi alam semesta?” Allah akan mengatakan, Hamba-Ku si fulan meminta minum kepadamu, tetapi tidak kamu beri minum. Seandainya kamu memberinya minum niscaya akan kamu dapati Aku di sisinya.”

Sebuah masyarakat Tauhid tidak hanya berarti bahwa umat manusia menjadi satu dengan alam, tetapi bahwa kita menjadi satu dengan umat manusia lainnya. Inilah makna tauhid dalam kehidupan kita. Tauhid bukanlah persaudaraan yang lemah dan emosional.

Dimana kaum miskin dan kaya sholat bersama,
Dimana dalam haji, kaum kulit hitam dan kulit putih menjalankan thawaf Kabah bersama-sama
Itu semua hanyalah tauhid simbolik yang harus kita lampaui.

Apa gunanya?
ketika kembali ke rumah, beberapa diantara kita mati karena tidak cukup makan
sementara yang lain mati karena kekenyangan,…

Apa gunanya?
setelah shalat, pulang ke rumah megah,…
sementara sang muazzin harus merangkak masuk ke dalam kamarnya yang kecil?,..

Maulana Yusuf berpendapat bahwa suatu penindasan apabila beberapa di antara kita tinggal di istana sementara yang lainnya tinggal dalam gubuk.

Ketika Ali bin Abi Thalib r.a mengatakan bahwa tidak mungkin beberapa orang mendapatkan sejumlah besar kekayaan kecuali yang lain mati kelaparan;

Ketika Abu Dzar al-Ghifari mengatakan: “Seandainya aku berkuasa, maka aku akan pergi ke semua orang kaya dan mengambil dengan paksa kelebihan harta mereka serta membagikannya kepada orang-orang miskin.”

Ketika Umar bin Khatab r.a mengatakan: “Seandainya sebelumnya aku tahu apa yang kuketahui sekarang, maka aku tidak akan ragu-ragu untuk mengambil kelebihan hartaa kaum Anshar dan membagikannya kepada kaum Muhajirin yang miskin” (Ibn Hazur, Vol.IV, hlm.158)

Perjuangan para shahabiyah untuk mewujudkan tauhid dalam bidang sosial-ekonomi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s