Teori Motivasi McClelland

Seseorang menggunakan konsep motivasi untuk memberikan suatu kecendrungan umum yang mendorong ke arah jenis tujuan tertentu. Dalam pengertian ini, motivasi sering di pandang sebagai karakteristik kepribadian yang relatif stabil. Sejumlah orang termotivasi untuk berprestasi, sebagian yang lain termotivasi untuk bergaul dengan orang lain dan mereka menyatakan motivasi ini dalam berbagai cara yang berbeda. Motivasi sebagai suatu karakteristik yang stabil merupakan konsep yang agak berbeda dari motivasi untuk melakukan sesuatu yang spesifik dalam situasi tertentu. Misalnya, seseorang dapat dimotivasi untuk makan apabila telah cukup lapar (motivasi situsional), namun sejumlah orang umumnya lebih tertarik pada makanan daripada yang lain (motivasi sebagai suatu karakteristik pribadi atau motivasi kepribadian). Hal ini tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa motivasi situsional dan motivasi kepribadian tidak berhubungan. Motivasi sebagai suatu karakteristik pribadi (motivasi kepribadian) sebagian besar merupakan hasil dari sejarah seseorang (motivasi situsional).

McClelland (dalam Gibson, 1993; 97-100) mengemukakan teori motivasi yang berhubungan erat dengan konsep belajar. Ia berpendapat banyak kebutuhan yang diperoleh dari kebudayaan yaitu; kebutuhan prestasi (need for achievment), kebutuhan akan afiliasi (need for affiliation), dan kebutuhan akan kekuasaan (need for power).

Menurut McClelland manakala kebutuhan seseorang terasa sangat mendesak, maka kebutuhan akan memotivasi orang tersebut untuk berusaha keras memenuhi kebutuhan tersebut. Contohnya, apabila seseorang memiliki kebutuhan prestasi belajar atau bekerja yang tinggi, maka kebutuhan tersebut mendorong orang untuk menetapkan target yang penuh tantangan, dia harus bekerja keras untuk mencapai tujuan dengan menggunakan keterampilan dan pengalaman yang ia miliki, ia rajin ke pustaka, toko buku, membeli buku, membaca dan mendengar informasi. Peningkatan prestasi belajar didukung sikap pribadinya, dalam mengolah pelajaran yang dapat di sekolah, keseriusan dalam belajar, membagi waktu bermain dan belajar.

Teori motivasi berprestasi, menurut McClelland seseorang mempunyai motivasi untuk bekerja karena adanya kebutuhan untuk berprestasi. Motivasi ini merupakan fungsi dari tiga variabel yaitu 1) kebutuhan untuk berhasil (the need to achive), 2) kemungkinan sukses (the probability of success), dan 3) persepsi tentang nilai tugas tersebut (perception of the outcome) (Zenzen, 2002).

Motivasi berprestasi bersifat instrinsik dan relatif stabil. Orang yang memiliki motivasi berprestasi menginginkan tantangan yang memungkinkan mereka dapat menunjukkan penampilannya (performance). Orang ini menginginkan umpan balik dari penampilannya. Jadi dalam kontek ini sistem harus dapat manipulasi motivasi berprestasi siswa dan memberi tugas-tugas yang dapat diselesaikan oleh masing-masing siswa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s