Ikuti Sunnah, Jauhi Bid’ah

عَنْ عائشةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قالتْ: قَالَ رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: (( مَنْ أَحْدَثَ في أَمْرِنا هَذا ما لَيس مِنهُ فَهو رَدٌّ)) رَواهُ البُخارِيُّ ومُسلِمٌ وفي رِوايةٍ لِمُسلِمٍ: (( مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيسَ عَلَيهِ أَمرُنا فَهو رَدٌّ ))

“Barangsiapa mendatangkan perkara baru dalam agama ini, yang bukan termasuk darinya, maka perkara itu adalah ditolak.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Dan dalam riwayat Muslim: “Barangsiapa mengerjakan suatu amalan, yang bukan dari perintah kami, maka amalan itu adalah ditolak.” (HR. Muslim)

Hadits ini diriwayatkan dari Ummul Mukminin ‘Aisyah binti Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. Beliau adalah wanita yang paling tinggi ilmu fiqihnya sepanjang sejarah. Mendampingi Rasulullah SAW. selama 8 tahun 5 bulan (Syawwal 2 H. – 12 R.Awwal 11 H.). sebagai istri yang paling beliau cintai sekaligus paling mulia setelah Khadijah ra. Beliau salah seorang sahabat perawi hadits terbanyak dengan + – 2210 riwayat hadits. Dan wafat pada bulan Ramadhan tahun 57 H.

Takhrij Hadits

Ini hadits muttafaq ‘alaih, yakni yang sepakat diriwayatkan oleh Al-Bukhari (di 3 tempat dalam Shahih-nya: al-buyuu’ [k.34], ash-shulh [k.53] dan al-i’tisham bil-kitab was-sunnah [k.97]), dan Muslim (k. al-aqdhiyah), disamping juga diriwayatkan antara lain oleh: Abu Dawud (k. as-sunnah), Ibnu Majah (al-muqaddimah), dan Ahmad (II/146).

Pengertian Bid’ah

Dari segi bahasa, bid’ah berarti suatu hal baru yang dianggap baik dan indah, tanpa ada contoh sebelumnya. Adapun dalam peristilahan, bid’ah berarti: setiap bentuk penyimpangan yang diyakini oleh pelakunya sebagai bagian dari ajaran Islam, dan juga setiap amal yang dianggap syar’i dan diniatkan sebagai bentuk ibadah kepada Allah, tanpa adanya dasar yang dibenarkan dalam syariat Islam. Dan hal itu baik berupa keyakinan, pemikiran, amal perbuatan, perkataan, ataupun tindakan meninggalkan sesuatu (dengan niat ibadah).

Sebab-sebab datangnya bid’ah setidak-tidaknya ada empat:

1. Bodoh terhadap agama karena tidak mau mempelajarinya (QS. Ar-Ruum (30): 7).

2. Mengikuti hawa nafsu (QS. Al-Qashash (28): 50)

3. Fanatik terhadap golongan atau pendapat tertentu (QS. Al-Baqarah (2): 170)

4. Tasyabbuh (menyerupai) orang-orang kafir (QS. Al-A`raaf (7): 138)

Macam-macam Bid’ah

Bid’ah pada dasarnya bias dibedakan menjadi dua macam: Pertama, bid`ah kubra, yaitu bid`ah pada aqidah, ideologi dan pemikiran. Induknya adalah: Khawarij, rafidhah, qadariyah atau mu`tazilah, jahmiyah, dan murji`ah. Dan kedua, bid`ah shughra, yaitu bid`ah yang biasa terjadi dalam lingkup amal ibadah. Bid`ah sughra ini meliputi baik bid’ah ‘amaliyah maupun bid’ah tarkiyah. Bid`ah amaliyah berarti melakukan sesuatu tanpa ada dasarnya dalam al-Quran maupun As-Sunnah. Baik dalam tata cara ibadah maupun dalam niat dan tujuan ibadah. Dalam tata cara ibadah: melakukan praktek ibadah diniatkan untuk Allah tapi caranya salah, dan tidak berdasar pada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah. Seperti: dzikir jamaah, istighatsah. Dan lain-lain. Dalam tujuan ibadah: terkadang ibadahnya benar tapi niatnya tidak untuk taqarrub kepada Allah. Seperti melakukan shalat dhuha atau amalan tertentu untuk mencari kesaktian, tenaga dalam, karamah, ilmu laduni, ilmu kasyaf dan semacamnya. Sedangkan bid`ah tarkiyah berarti meninggalkan sesuatu yang disyariatkan dengan niat ibadah tanpa ada alasan yang bisa dibenarkan. Seperti meninggalkan makan daging dan menikah dengan niat ibadah.

Bid’ah juga bisa dibedakan menjadi: bid’ah haqiqiyah (bid’ah hakiki), yang merupakan bid’ah muttafaq ’alaiha (yang disepakati) dan bid’ah idhafiyah (non hakiki), yang bersifat mukhtalaf fiha (bid’ah khilafiyah). Disamping itu, bid’ah juga bisa dibedakan menjadi bid’ah mukaffirah (yang menjadikan pencetus dan pelakunya kafir), dan bid’ah mufassiqah (yang menjadikan pelakunya fasik).

Yang jelas, bid’ah itu tidak hanya satu macam, juga tidak berada dalam satu tingkatan, melainkan bermacam-macam dan bertingkat-tingkat

Hukum Bid’ah

Bid`ah hukumnya dilarang dalam agama, sebagaimana sabda Rasulullah saw: “Sekali-kali janganlah mengerjakan perkara-perkara yang baru dalam agama. Karena setiap yang baru adalah bid`ah, dan setiap yang bid`ah adalah sesat.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

Karakteristik Bid’ah

Agar bisa membedakan suatu perbuatan itu “bid`ah” atau “bukan”, kita harus mengetahui karakteristik bid`ah tersebut. Sehingga sesuatu bisa dikatakan “bid`ah” jika memenuhi karakteristik dan ciri khususnya, yaitu:

1. Merupakan hal baru yang diada-adakan tanpa adanya contoh terdahulu pada masa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu ’anhum.

2. Tidak adanya dasar sama sekali dari Al Qur’an atau As-Sunnah atau ijtihad yang mu’tabar (diakui).

3. Tidak logis atau ada bagian yang tidak bisa dilogikakan atau tidak boleh dilogikakan atau tidak termasuk dalam wilayah akal dan logika.

4. Diyakini kebenarannya – oleh pembuat dan atau pelakunya – sebagai bagian dari syariat dan ajaran Islam.

Bahaya Bid’ah

Orang yang melakukan bid’ah seolah-olah hendak menciptakan syariat baru, berbohong atas nama Allah dan rasul-Nya, meyakini bahwa syariat Islam masih kurang atau belum sempurna, mendustakan firman Allah yang menyatakan telah sempurnanya ajaran Islam (QS Al-Maidah: 3), bahkan menuduh Rasulullah saw bodoh dan tidak tahu, dan ia menganggap dirinya lebih pintar dibanding beliau

Amalan bid’ah tertolak dan tidak diterima, sebagaimana hadits yang diuraikan dalam tulisan ini. Disamping itu, ibadah bid’ah pada hakekatnya merupakan ibadah kepada syetan (lihat: QS.36 : 60-61), disadari atau tidak, diketahui atau tidak, dan diniatkan atau tidak oleh pelakunya. Karena begitu berbahayanya bid’ah, para ulama salaf berkata, ”Bid’ah itu lebih disukai oleh Iblis daripada kemaksiatan, karena bertaubat dari kemaksiatan itu secara umum lebih mudah daripada bertaubat dari bid’ah”.

Menyikapi Bid’ah dan Pelakunya

Para ulama menyatakan bahwa seseorang yang melakukan perbuatan bid`ah, tidak bisa langsung diklaim sebagai ahli bid`ah sampai terpenuhi syarat-syarat dan tidak ada faktor penghalangnya, yaitu dia sudah diberitahu yang benar dengan dalil dan hujjah nyata, sudah mengerti, tetapi malah membangkang, setelah berkali-kali dinasehati dengan cara yang baik, dan tetap melakukan kebid`ahan, berarti pada saat itu ia memang seorang ahli bid`ah. Bagi pelaku bid`ah yang tidak mengerti, haram bagi kita untuk mengklaimnya sebagai tukang bid`ah. Karena ia belum mengerti dan harus diajari terlebih dahulu.

Disamping itu ada beberapa kaidah yang mesti diperhatikan, antara lain:

1. Sikap kehati-hatian puncak sebelum menghukumi.

2. Yang berhak melakukannya hanyalah para ulama` yang benar-benar mendalam ilmunya. Bukan sembarang orang.

3. Pemutusan hukum, harus berdasar pada keyakinan penuh yang tidak menyisakan keragu-raguan dan syubhat sedikit pun juga.

4. Dalam pemutusan hukum, kita harus mengedepankan sikap dan posisi sebagai juru da`wah, bukan sebagai hakim. Lebih mengedepankan maslahat umum bukan maslahat dzatiyah (pribadi).

5. Membedakan – dalam penilaian dan penyikapan – antara bid’ah dan pelakunya, antara pelaku bid’ah dan tokoh pencetusnya, antara pelaku bid’ah pasif dan pelaku bid’ah aktif, antara pelaku bid’ah awam dan pelaku bid’ah ”ulama”, dan seterusnya.

Sumber : http://ikadijatim.org/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s